Home Cerpen Bertemu Tuyul di Pohon Bambu

Bertemu Tuyul di Pohon Bambu

406
0
Cerita Horor

Hallo guys, selamat hari malam jumat. Buat kalian yang baru datang di blog ini, saya ucapkan selamat datang dan selamat membaca.

Oke sebagai perkenalan, saya biasa dipanggil Jai, anak perantauan yg pergi ke kota mencari nafkah, buat diri sendiri (masih bujang boi) wkwkkw.
Blog ini saya buat karena ketertarikan menulis sejak lama, namun tak kunjung ter-realisasikan karena jadwal padat. (padahal mau bilang kalau ga ada kerjaan saat pulang kerja offline).

Oke, sebenernya saya suka menulis informasi tentang dunia Teknologi, namun karena ketertarikan pada dunia mistis juga, di blog ini setiap malam jumat saya akan mengisinya dengan kisah kisah mistis. Hehe
Jadi guys buat kalian yang ingin tahu ceritaku jangan lupa klik “setuju” pada notif yang muncul, atau klik lonceng merah yang ada di kiri bawah, kemudian akan muncul notif, lalu  klik “allow”. Biar selalu update kisah kisah mistis yang di muat di blog ini.

Oke, cerita pertama ini terjadi ketika saya masih menginjak kelas satu SD. Di desa tempat tinggalku dulu, sekitar rumahku masih dikelilingi tumbuhan bambu, kalau dalam bahasa jawa namanya “pring”.
Ketika itu dirumah tidak ada tv, sesuatu yang menurut kami cuma orang-orang kaya yang bisa membeli benda semahal itu. Sehingga saya sering mengungsi untuk menonton acara telivisi di rumah tetangga.
Namanya numpang, pasti ngikut aja apa yang ingin di tonton oleh yang punya. Di desa tempat tinggalku dulu yang punya televisi bisa dihitung dengan jari, dan kesukaan acara yg dilihat oleh mereka pun berbeda. lambat hari saya kemudian menyadari tetangga dekat rumah saya sebut saja Bu Ratmi suka acara telenovela, namun tetangga saya yang lain sebut saja namanya Pak Maryo ini suka acara film. 

Nah, masalahnya rumah yang saya tinggali ini berdekatan dengan rumah Bu Ratmi, sedangkan Pak Maryo letak rumahnya agak lebih jauh dari rumahku. Sehingga saya harus berjalan agak jauh untuk ke rumahnya Pak Maryo.

Pak Maryo ini menurut saya se-favorit dengan saya, maksud saya acara kesukaannya. namun saya lebih seringnya menonton tv di rumahnya Bu Ratmi karena lebih dekat dengan rumah saya.

Ketika itu, sepulang ngaji jam 7 malam saya ingin sekali menonton film favorit, acara yang selalu saya nanti-nanti setiap minggunya, setiap hari kamis. Seperti biasa saya datang kerumahnya Bu Ratmi dengan rasa penasaran karena ingin menonton acara favorit saya. Namun seperti tebakanku, saat masih dijalan menuju ke rumahnya Bu Ratmi, dan benar saja dia lebih memilih acara telenovela ketimbang film. Saya tidak bisa berbuat apa apa, kemudian saya memberanikan diri untuk menuju kerumahnya Pak Maryo.
Sempat berfikir lama apakah kesana atau tidak, mengingat jarak rumah Pak Maryo harus melewati rerimbunan tumbuhan bamboo yang cukup lebat, namun karena rasa penasaran yang sudah di ubun, akhirnya saya  memberanikan diri untuk datang kerumahnya.

Berjalan dengan sedikit lari akhirnya sampai lah kerumahnya, waktu itu sampai dirumahnya pukul tujuh lebih lima belas, bahagia rasanya karena Pak Maryo seperti perkiraan saya. Dia memutar acara film favorit saya.
Meskipun terlambat lima belas menit gpp lah yang penting bisa nonton.

Satu jam berlalu, saya menikmati film nya. Ketika itu pukul delapan malam, saat saya ingin bergegas dari rumah Pak Maryo, ternyata cuaca sedang tidak mendukung, petir terdengar begitu kerasnya. Lalu hujan…..
Pak Maryo menahan saya untuk nanti saja pulangnya, sambil dibawakan “apem”, tahu apem kan ? yang bentuknya bulat kecil warna warni itu . Ini lho makan dulu, mumpung masih anget, “kata Pak Maryo”.

Tanpa ragu, entah kenapa saya mengiyakan permintaan Pak Maryo, pikirku yasudahlah lagipula masih hujan.
Tak terasa sudah dua jam saya menunggu, hujan pun mulai reda, namun masih sedikit gerimis gerimis. Karena besok sekolah, dan ibu juga pasti cemas menunggu dirumah, saya pun akhirnya nekat untuk pulang. 

Saya lari dari rumahnya Pak Maryo menuju rumah saya, saat itu kondisi di kampung tidak seperti sekarang. Listrik hanya ada di rumah-rumah, jalanan masih gelap, karena kurangnya penerangan, dan masih dipenuhi tumbuhan yang besar besar.

Di tengah perjalanan, saya menghentikan kecepatan lari saya, karena banjir yang menggenangi jalan, sehingga saya harus berhati hati.
Waktu itu memang gelap, jadi tidak bisa melihat ada batu atau tidak, dibawah, takut kesandung batu.
Sehingga saat berjalan saya hanya menggunakan insting karena sering melewati jalan itu.
Baru sepuluh meter berjalan, saya mendengar bunyi cipratan air dari arah kanan. Tampaknya seperti kaki yang di hentakkan ke air, bias bayangin kan bunyinya pyuk, pyuk . sehingga kemudian saya berhenti untuk mengamati apa yang saya dengar itu.
Meskipun tidak terlihat jelas tapi saya tahu kalau disitu pasti ada orang. Padahal waktu itu sudah pukul sepuluh malam, dan kondisinya juga habis hujan. Dalam hati bertanya-tanya, siapa ya…
Saya kemudian memberanikan diri untuk memanggil,,

Dalam Bahasa Jawa

“Sopo iku? (siapa itu?)”
Kemudian suara hentakan kaki itu berhenti, kemudian saya melanjutkan langkah. Baru tiga langkah berjalan, ada suara hentakan kaki lagi
“ Pyuk…. pyuk …

Lalu saya berhenti dan mencoba mengamati lebih lama,,,
Ku panggil lagi,,,
Lek,,, (Pak?)
Lek,,, (Pak?)
Sopo yo neng kono? (Siapa ya disitu?)

Kemudian hentakan kaki itu berhenti lagi,,,

Saya melanjutkan langkah lagi, baru satu langkah terdengar hentakan kaki lagi,,,,
“Pyuk,,, pyuk,,,, pyuk,,,
Kali ini agak rame, seperti ada dua orang yang lagi mainan air.

Lalu karena penasaran saya mencoba mendekati arah suara itu ….

Dengan sedikit rasa cemas, takut yang campur aduk,, saya berjalan pelan pelan mendekat,,

Samar-samar terlihat ada dua anak kecil yang sedang main air di balik  rerimbunan pohon bamboo itu,,

Mereka tidak memakai celana, cuma pakai kancut,, namun mukanya tidak terlihat, karena saat berdirinya membelakangi saya,,,

Kupanggil dek,, dek,,, .lalu mereka sejenak diam,, kemudian perlahan menoleh kepadaku,,,

Masyaallah, mukanya  bukan muka manusia, muka nya seperti barong/reog dan punya dua taring. Mulutnya berair sampai netes-netes, matanya merah menyala, rambutnya kasar dan lebat,,, entah mahluk apa itu yang jelas waktu itu kaki ku rasanya gemetar tak karuan, dan saya lari terbirit-birit menerjang jalan yang masih banjir.

Sesampainya dirumah, saya langsung menuju kamar dan menutupi kepala dengan selimut. Ya Allah,,, makhluk apa itu tadi?

Keesokan harinya badan panas, meriang, sakit selama tiga hari,,,

Leave a Reply